Rabu, 10 Oktober 2012
TITIK.
Jendela kamarku tertutup rapat. Hanya sedikit udara yang mampu masuk ke dalam ruangan. Saat itu aku hanya berhadapan dengan meja kerjaku. Berusaha mengisi lembar kosong dengan pena yang kupegang erat. Sampai menit terakhir di pukul 00.00 rasa kantuk tak kunjung menghampiri mataku. Kemudian goresan tinta pena mulai mengisi lembaran kertasku.
Entah apa yang kubaca, apakah ini hasil tulisanku selama semalaman ini. Tidak ada sebuah cerita, tidak ada sebuah puisi dan hanya tertulis satu nama. Dan itu pun namamu.
Belum habis tinta penaku untuk menulis, belum pula penuh kertasku dengan coretan namamu. Seribu namamu yang telah kutulis luntur seketika. Air mataku telah merusak namamu di lembar kertasku. Namun itu tak buatku bersedih dan semakin sedih. Karena yang aku tau lebih menyedihkan kehilanganmu. Dan kini baru kusadari itu sudah terjadi.
Ternyata rasa sakit dan sedih sudah kutelan bersamaan dengan kenangan manis bersamamu. Hancur. Mungkin akan kudeskripsikan dengan kata "hancur" untuk kisah cintaku. Tak lagi ada kamu saat aku ingin berbagi cerita. Tak ada lagi tangan yang kugenggam saat aku merasa sendiri. Tak ada lagi yang hiasi mimpiku tiap malam. Aku hanya ingin pastikan apakah ini kenyataan yang ada. Aku hanya ingin mengembalikan waktuku bersamamu.
Mungkin mereka yang melihatku akan berkata aku naif dengan semua ini. Mereka pun meminta agar aku segera melupakanmu. Melupakan masa laluku. Peduliku tak memihak dengan semua kata mereka. Baru saja aku bertanya dengan hatiku. Mampukah aku melupakan masa laluku. Haruskah aku mencari seorang pengganti. Hati kecilku hanya memberi satu jawaban. Aku masih mencintainya. TITIK.
Langganan:
Postingan (Atom)