Aku tidak ingin menyiksa diriku sendiri
Dia mungkin tak bermaksud mempermainkan perasaanku
Hati ini hanya saja terlalu lemah menerimanya
Hatinya mungkin terlalu sulit menerima kekuranganku
Dia atau dia yang lain...
Dan tetap dia yang meliputi isi kepalaku
Kapan dia bisa lenyap dari hidupku
Meskipun kupaksa dan terpaksa
Masih saja kembali ke masa itu
Dirinya lagi dan lagi...
Hilang ingatan pun tak ada guna
Sosoknya lagi dan lagi
Jawabannya sudah pasti..
Dia sudah pasti tidak menginginkanku
Mimpiku sudah mati...
Aku sudah pasti tidak memilikinya
created : rr.putri sari sekar kenanga
Sabtu, 03 Desember 2011
Kisah Kita...
Seharusnya kita tidak bertemu.
Seharusnya kita tidak perlu bertegur sapa.
Seharusnya kita tidak perlu saling kenal.
Dan seharusnya kita tidak memulai cerita ini.
Pertemuan kemarin membuatku selalu gelisah.
Senyum sapamu selalu hadir di tiap mimpiku.
Setelah perkenalan itu, membuatku ingin selalu mengenalmu lebih jauh.
Dan ingin rasanya melanjutkan cerita yang berujung indah.
Awalnya aku mengira ini hanya sebuah canda.
Tapi setelah terus kujalani, perasaan ini berubah menjadi serius dan ingin terbalas.
Aku selalu merasa dihantui rasa takut yang berlebih.
Aku takut rasa bahagia ini hanya sementara.
Aku takut rasa yang kita nikmati berbeda.
Karena, mungkin aku yang salah dan terlalu berharap lebih.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Seharusnya kita tidak perlu bertegur sapa.
Seharusnya kita tidak perlu saling kenal.
Dan seharusnya kita tidak memulai cerita ini.
Pertemuan kemarin membuatku selalu gelisah.
Senyum sapamu selalu hadir di tiap mimpiku.
Setelah perkenalan itu, membuatku ingin selalu mengenalmu lebih jauh.
Dan ingin rasanya melanjutkan cerita yang berujung indah.
Awalnya aku mengira ini hanya sebuah canda.
Tapi setelah terus kujalani, perasaan ini berubah menjadi serius dan ingin terbalas.
Aku selalu merasa dihantui rasa takut yang berlebih.
Aku takut rasa bahagia ini hanya sementara.
Aku takut rasa yang kita nikmati berbeda.
Karena, mungkin aku yang salah dan terlalu berharap lebih.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Minggu, 16 Oktober 2011
Ber(CINTA) Terakhir....
Aroma kopi hitam tanpa gula terhirup kuat dari cangkir putih milik Brahma. Aku sengaja menyiapkan kopi pahit favoritnya, karena lima belas menit lagi ia akan sampai.
Brahma adalah suamiku, kami telah lima tahun menikah. Namun, rumah kami masih belum bising dengan suara tangisan anak kecil. Aku dan Brahma tidak terlalu menuntut bahkan tidak kecewa akan keadaan ini. Kami tetap bahagia dan sabar menanti datangnya masa membahagiakan itu suatu hari nanti.
"Tiiiiiinnn....!!" suara klakson mobil Brahma masuk ke dalam garasi mungil rumah.
Aku segera bergegas membuka pintu rumah dan menyambut suamiku yang baru dinas dari Bandung selama tiga hari dua malam. Rasa rindu yang menggebu berseru di diri ini, seakan ditinggal oleh suamiku selama satu abad. Aku sangat mencintai suamiku yang sangat berwibawa dan tampan ini.
"Hai sayang.. Aku kangen sekali sama kamu. Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana? Kamu pasti capek yah?", tanyaku bertubi pada Brahma.
"Sayaaang, aku kangeeeenn juga sama kamu. Pekerjaan aku sudah beres disana", jawab Brahma sambil mencium keningku dan memeluk tubuhku sambil masuk ke dalam rumah.
Aku segera menyuguhkan kopi hitam yang telah kusiapkan tadi pada Brahma dan duduk disampingnya sambil berbincang, mendengarkan cerita suamiku saat ia dinas di Bandung. Semakin hari rasa cintaku kepada suamiku bukan semakin memudar, tetapi dia selalu membuat hasrat cintaku semakin bertambah dan seperti selalu mulai jatuh cinta saat mengenalnya di bangku SMA. Brahma selalu menjadikan aku seperti perempuan yang istimewa dan spesial, aku merasa istri paling beruntung di dunia ini, memiliki suami seperti Brahma Artha Wirya.
04 Oktober 2006.
Hari ini adalah Anniversary pernikahan kami yang kelima. Tepat di hari Sabtu (weekend) yang akan kuhabiskan waktu ini dengan suamiku. Kami tidak berencana pergi kemana pun. Aku hanya menyiapkan hidangan spesial untuk kami dinner di Sabtu malam nanti.
Make up natural dan gaun selutut berwarna abu-abu gelap yang sengaja kubeli kemarin sore telah siap dinikmati oleh suamiku. Ia memandangku dan tersenyum manis. Senyumnya tidak berubah, persis pada saat dia melamarku lima tahun yang lalu.
Setelan jas dengan kemeja berwarna abu-abu muda bernuansa casual melekat di tubuh Brahma yang proporsional. Pria dewasa yang nyaris sempurna ini memelukku dengan erat malam ini. Kami berdansa mengikuti alunan musik klasik favorit semasa SMA.
Malam ini hanyalah milik kami berdua, tidak ada yang boleh mengganggu malam spesial ini.
"I love you, Clara...", bisik Brahma di telingaku saat kami sedang berdansa.
"I love you too, Brahma. Happy Anniversary, sayang.", jawabku berbisik dan semakin memeluk erat tubuh suamiku.
"Aku mau kamu seutuhnya malam ini sayang, dan selamanya.", Brahma mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar.
Suasana kamar kami seperti saat malam pertama setelah hari pernikahan kami lima tahun silam. Dihiasi dengan lampu tidur yang romantis dan aroma terapi yang menenangkan.
Aku dan Brahma melakukan hubungan suami istri selayaknya pasangan suami istri lainnya. Ini bukan kali pertamanya kami bercinta. Namun, Brahma melakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kami sangat menikmatinya. Hingga kami tertidur.
"Aaaaaaaaarrrrggghhh......", teriakan Brahma dari kamar mandi membangunkanku di Minggu pagi ini. Aku pun segera bergegas menghampiri suamiku yang terjatuh lemas di depan wastafel kamar mandi.
"Sayang... Kamu kenapaa??!!", tanyaku panik sambil memeluk suamiku yang duduk lemas di lantai kamar mandi. Tidak lama kemudian Brahma tidak sadarkan dirinya.
Aku segera menghubungi ambulans agar membawanya segera ke rumah sakit.
Rumah Sakit.
Aku menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa Brahma di depan ruang Gawat Darurat. Aroma kuat obat di rumah sakit ini mengingatkanku setahun yang lalu saat ibuku meninggal karena stroke. Rasa trauma itu masih terasa dibenakku. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi.
Aku terus berdoa selama dua jam menunggu di lorong rumah sakit. Dokter yang memeriksa suamiku belum juga keluar dari ruang Gawat Darurat.
Pintu ruangan Gawat Darurat pun terbuka. Seorang suster dan dokter berpakaian putih dan rapi keluar dari pintu ruangan tersebut. Aku segera menghampiri mereka dan menanyakan keadaan suamiku.
Dokter segera menenangkanku dan mengajakku ke ruangannya.
"Ibu Clara, betul Anda istri dari Bapak Brahma Artha Wirya?", tanya dokter kepadaku dengan wajahnya yang agak kaku tapi tetap tersenyum.
"Iya betul, Dok. Jadi apa yang terjadi dengan suami saya, Dokter?", tanyaku penuh khawatir dan sangat menunggu jawaban dari dokter.
"Suami ibu mengidap penyakit Leukimia atau kanker darah. Penyakit ini sudah cukup lama dideritanya, tapi Pak Brahma sepertinya tidak pernah mengeluh dan mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Suami ibu harus diberikan perawatan inap dan terapi di rumah sakit ini, sehingga bisa dilakukan pengobatan secara intens.", jawab dokter menjelaskan padaku.
Aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Lututku pun terasa lemas meskipun aku sedang duduk. Air mata sudah tidak mampu lagi kubendung. Mengapa Brahma tidak pernah mengeluh dan menceritakan tentang penyakitnya selama ini. Mengapa dia tidak mengeluhkan padaku tentang apa yang ia rasakan saat merasakan rasa sakit yang dideritanya. Aku merasa telah menjadi istri terbodoh yang ada dunia, karena tidak tahu tentang masalah terberat suamiku.
Seminggu telah berlalu. Brahma masih berada dalam perawatan di rumah sakit. Setiap hari aku menjaganya di rumah sakit. Menyuapinya saat makan pagi, siang dan malam. Memberikannya obat yang telah disediakan dari rumah sakit, bahkan satu butir obat pun tak pernah tertinggal.
Suasana rumah sakit menghiasi hari-hariku dengan suamiku Brahma. Aku selalu berbincang tentang apa pun di kamar inap Brahma. Tersenyum dan tertawa bersama. Aku tidak pernah menangis dan bersedih di depan Brahma, setetes air mata pun tak pernah ada saat bersamanya. Semangat dan rasa percaya akan kesembuhan suamiku terus kutanamkan dalam benakku.
Kepalaku terasa berat sekali. Mataku berkunang-kunang saat menebus obat untuk Brahma. Aku sungguh tidak kuat menahan rasa ini. Sepertinya badanku akan ambruk dalam hitungan detik.
Saat terbangun. Aku sudah berada di kamar, di rumah sakit. Ibu mertuaku menjagaku di sofa sebelah kasurku.
"Maaahh...", panggilku dengan suara rendah dan nyaris hilang.
"Clara, kamu sudah sadar? Tadi kamu pingsan, sayang. Mama khawatir kamu terlalu capek merawat Brahma, Nak. Besok kamu istirahat saja ya. Biar mama yang menjaga Brahma.", jawab Ibu mertuaku panjang dengan nada khawatir.
Tidak lama kemudian, seorang dokter muda, cantik dan modis masuk ke ruangan. Sambil tersenyum, ia mengucapkan selamat kepadaku.
"Clara, selamat yaa. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu sedang mengandung, usia kandunganmu sudah sekitar seminggu lebih.", senyum manis dokter cantik itu dengan kabar bahagianya.
"Terima kasih, Dokter.", aku sudah tidak mampu berkata-kata. Rasa bahagia, haru dan sedih bercampur menjadi satu. Ini adalah anugerah yang selama ini aku dan Brahma tunggu. Kini impian kami datang.
04 November 2006.
Kondisi Brahma tidak bertambah baik. Dokter memberitahukanku bahwa kondisi Brahma mengkhawatirkan. Usia kandunganku sudah genap sebulan. Aku berencana memberitahu kabar bahagia ini pada Brahma saat usia kandunganku genap sebulan.
Belum sampai kamar Brahma, dokter dan para suster berlarian mendahuluiku ke arah kamar Brahma. Lamunanku yang tidak jelas arahnya hilang seketika dan refleks aku ikut berlari mengikuti mereka. Tidak sempat aku masuk melewati pintu kamar Brahma, para suster menghalangiku dan tidak memperbolehkanku masuk ke dalam.
Aku hanya bisa menunggu dokter dan para suster keluar dari kamar Brahma. Lima belas menit berlalu, tidak lama kemudian suster Novita keluar dan langsung menghampiri tempat dudukku. Serentak aku berdiri, suster Novita langsung memelukku dan menangis kemudian minta maaf padaku. Aku sungguh tidak siap mendengar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut suster Novita.
"Yaaaa Tuhaaaaannn.....", aku berteriak dan menangis keras hingga bergema di satu lorong rumah sakit. Aku sudah tidak mampu berdiri lagi. Seluruh tubuhku lemas. Bahkan aku sudah tidak mampu masuk ke dalam kamar suamiku yang kini sudah tidak bernyawa lagi. Ini adalah pukulan terdahsyat yang Tuhan berikan padaku. Aku kehilangan belahan jiwaku. Suamiku tercinta. Kini dia pergi jauh meninggalkanku sendiri.
04 Oktober 2013.
Aku dan Kartika berziarah bersama ke makam suamiku Brahma Artha Wirya. Kartika (anakku) menulis selembar surat kecil untuk ayahnya. Air mataku menetes saat membaca surat Kartika saat di makam Brahma. Kartika tumbuh berkembang tanpa seorang Ayah yang tampan dan gagah seperti Brahma. Tetapi, aku selalu meyakinkan diriku dan anakku bahwa Brahma selalu ada di dalam hati kami. Ia tetap hidup di hati kami. Brahma akan selalu hidup di hatiku.
Aku tetap mencintaimu, suamiku.
SELESAI
created : rr.putri sari sekar kenanga
Brahma adalah suamiku, kami telah lima tahun menikah. Namun, rumah kami masih belum bising dengan suara tangisan anak kecil. Aku dan Brahma tidak terlalu menuntut bahkan tidak kecewa akan keadaan ini. Kami tetap bahagia dan sabar menanti datangnya masa membahagiakan itu suatu hari nanti.
"Tiiiiiinnn....!!" suara klakson mobil Brahma masuk ke dalam garasi mungil rumah.
Aku segera bergegas membuka pintu rumah dan menyambut suamiku yang baru dinas dari Bandung selama tiga hari dua malam. Rasa rindu yang menggebu berseru di diri ini, seakan ditinggal oleh suamiku selama satu abad. Aku sangat mencintai suamiku yang sangat berwibawa dan tampan ini.
"Hai sayang.. Aku kangen sekali sama kamu. Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana? Kamu pasti capek yah?", tanyaku bertubi pada Brahma.
"Sayaaang, aku kangeeeenn juga sama kamu. Pekerjaan aku sudah beres disana", jawab Brahma sambil mencium keningku dan memeluk tubuhku sambil masuk ke dalam rumah.
Aku segera menyuguhkan kopi hitam yang telah kusiapkan tadi pada Brahma dan duduk disampingnya sambil berbincang, mendengarkan cerita suamiku saat ia dinas di Bandung. Semakin hari rasa cintaku kepada suamiku bukan semakin memudar, tetapi dia selalu membuat hasrat cintaku semakin bertambah dan seperti selalu mulai jatuh cinta saat mengenalnya di bangku SMA. Brahma selalu menjadikan aku seperti perempuan yang istimewa dan spesial, aku merasa istri paling beruntung di dunia ini, memiliki suami seperti Brahma Artha Wirya.
*****
04 Oktober 2006.
Hari ini adalah Anniversary pernikahan kami yang kelima. Tepat di hari Sabtu (weekend) yang akan kuhabiskan waktu ini dengan suamiku. Kami tidak berencana pergi kemana pun. Aku hanya menyiapkan hidangan spesial untuk kami dinner di Sabtu malam nanti.
Make up natural dan gaun selutut berwarna abu-abu gelap yang sengaja kubeli kemarin sore telah siap dinikmati oleh suamiku. Ia memandangku dan tersenyum manis. Senyumnya tidak berubah, persis pada saat dia melamarku lima tahun yang lalu.
Setelan jas dengan kemeja berwarna abu-abu muda bernuansa casual melekat di tubuh Brahma yang proporsional. Pria dewasa yang nyaris sempurna ini memelukku dengan erat malam ini. Kami berdansa mengikuti alunan musik klasik favorit semasa SMA.
Malam ini hanyalah milik kami berdua, tidak ada yang boleh mengganggu malam spesial ini.
"I love you, Clara...", bisik Brahma di telingaku saat kami sedang berdansa.
"I love you too, Brahma. Happy Anniversary, sayang.", jawabku berbisik dan semakin memeluk erat tubuh suamiku.
"Aku mau kamu seutuhnya malam ini sayang, dan selamanya.", Brahma mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar.
Suasana kamar kami seperti saat malam pertama setelah hari pernikahan kami lima tahun silam. Dihiasi dengan lampu tidur yang romantis dan aroma terapi yang menenangkan.
Aku dan Brahma melakukan hubungan suami istri selayaknya pasangan suami istri lainnya. Ini bukan kali pertamanya kami bercinta. Namun, Brahma melakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kami sangat menikmatinya. Hingga kami tertidur.
*****
"Aaaaaaaaarrrrggghhh......", teriakan Brahma dari kamar mandi membangunkanku di Minggu pagi ini. Aku pun segera bergegas menghampiri suamiku yang terjatuh lemas di depan wastafel kamar mandi.
"Sayang... Kamu kenapaa??!!", tanyaku panik sambil memeluk suamiku yang duduk lemas di lantai kamar mandi. Tidak lama kemudian Brahma tidak sadarkan dirinya.
Aku segera menghubungi ambulans agar membawanya segera ke rumah sakit.
Rumah Sakit.
Aku menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa Brahma di depan ruang Gawat Darurat. Aroma kuat obat di rumah sakit ini mengingatkanku setahun yang lalu saat ibuku meninggal karena stroke. Rasa trauma itu masih terasa dibenakku. Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi.
Aku terus berdoa selama dua jam menunggu di lorong rumah sakit. Dokter yang memeriksa suamiku belum juga keluar dari ruang Gawat Darurat.
Pintu ruangan Gawat Darurat pun terbuka. Seorang suster dan dokter berpakaian putih dan rapi keluar dari pintu ruangan tersebut. Aku segera menghampiri mereka dan menanyakan keadaan suamiku.
Dokter segera menenangkanku dan mengajakku ke ruangannya.
"Ibu Clara, betul Anda istri dari Bapak Brahma Artha Wirya?", tanya dokter kepadaku dengan wajahnya yang agak kaku tapi tetap tersenyum.
"Iya betul, Dok. Jadi apa yang terjadi dengan suami saya, Dokter?", tanyaku penuh khawatir dan sangat menunggu jawaban dari dokter.
"Suami ibu mengidap penyakit Leukimia atau kanker darah. Penyakit ini sudah cukup lama dideritanya, tapi Pak Brahma sepertinya tidak pernah mengeluh dan mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Suami ibu harus diberikan perawatan inap dan terapi di rumah sakit ini, sehingga bisa dilakukan pengobatan secara intens.", jawab dokter menjelaskan padaku.
Aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Lututku pun terasa lemas meskipun aku sedang duduk. Air mata sudah tidak mampu lagi kubendung. Mengapa Brahma tidak pernah mengeluh dan menceritakan tentang penyakitnya selama ini. Mengapa dia tidak mengeluhkan padaku tentang apa yang ia rasakan saat merasakan rasa sakit yang dideritanya. Aku merasa telah menjadi istri terbodoh yang ada dunia, karena tidak tahu tentang masalah terberat suamiku.
*****
Seminggu telah berlalu. Brahma masih berada dalam perawatan di rumah sakit. Setiap hari aku menjaganya di rumah sakit. Menyuapinya saat makan pagi, siang dan malam. Memberikannya obat yang telah disediakan dari rumah sakit, bahkan satu butir obat pun tak pernah tertinggal.
Suasana rumah sakit menghiasi hari-hariku dengan suamiku Brahma. Aku selalu berbincang tentang apa pun di kamar inap Brahma. Tersenyum dan tertawa bersama. Aku tidak pernah menangis dan bersedih di depan Brahma, setetes air mata pun tak pernah ada saat bersamanya. Semangat dan rasa percaya akan kesembuhan suamiku terus kutanamkan dalam benakku.
Kepalaku terasa berat sekali. Mataku berkunang-kunang saat menebus obat untuk Brahma. Aku sungguh tidak kuat menahan rasa ini. Sepertinya badanku akan ambruk dalam hitungan detik.
Saat terbangun. Aku sudah berada di kamar, di rumah sakit. Ibu mertuaku menjagaku di sofa sebelah kasurku.
"Maaahh...", panggilku dengan suara rendah dan nyaris hilang.
"Clara, kamu sudah sadar? Tadi kamu pingsan, sayang. Mama khawatir kamu terlalu capek merawat Brahma, Nak. Besok kamu istirahat saja ya. Biar mama yang menjaga Brahma.", jawab Ibu mertuaku panjang dengan nada khawatir.
Tidak lama kemudian, seorang dokter muda, cantik dan modis masuk ke ruangan. Sambil tersenyum, ia mengucapkan selamat kepadaku.
"Clara, selamat yaa. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu sedang mengandung, usia kandunganmu sudah sekitar seminggu lebih.", senyum manis dokter cantik itu dengan kabar bahagianya.
"Terima kasih, Dokter.", aku sudah tidak mampu berkata-kata. Rasa bahagia, haru dan sedih bercampur menjadi satu. Ini adalah anugerah yang selama ini aku dan Brahma tunggu. Kini impian kami datang.
*****
04 November 2006.
Kondisi Brahma tidak bertambah baik. Dokter memberitahukanku bahwa kondisi Brahma mengkhawatirkan. Usia kandunganku sudah genap sebulan. Aku berencana memberitahu kabar bahagia ini pada Brahma saat usia kandunganku genap sebulan.
Belum sampai kamar Brahma, dokter dan para suster berlarian mendahuluiku ke arah kamar Brahma. Lamunanku yang tidak jelas arahnya hilang seketika dan refleks aku ikut berlari mengikuti mereka. Tidak sempat aku masuk melewati pintu kamar Brahma, para suster menghalangiku dan tidak memperbolehkanku masuk ke dalam.
Aku hanya bisa menunggu dokter dan para suster keluar dari kamar Brahma. Lima belas menit berlalu, tidak lama kemudian suster Novita keluar dan langsung menghampiri tempat dudukku. Serentak aku berdiri, suster Novita langsung memelukku dan menangis kemudian minta maaf padaku. Aku sungguh tidak siap mendengar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut suster Novita.
"Yaaaa Tuhaaaaannn.....", aku berteriak dan menangis keras hingga bergema di satu lorong rumah sakit. Aku sudah tidak mampu berdiri lagi. Seluruh tubuhku lemas. Bahkan aku sudah tidak mampu masuk ke dalam kamar suamiku yang kini sudah tidak bernyawa lagi. Ini adalah pukulan terdahsyat yang Tuhan berikan padaku. Aku kehilangan belahan jiwaku. Suamiku tercinta. Kini dia pergi jauh meninggalkanku sendiri.
*****
04 Oktober 2013.
"Ayah... Kartika emang nggak pernah lihat wajah Ayah. Tapi tika selalu denger cerita Bunda tentang Ayah. Kata Bunda, Ayah adalah laki-laki terbaik di dunia. Tika bangga punya Ayah seperti Ayah Brahma. Bunda sayang bangeeeet sama Ayah, Tika juga sayaaaang bangeeet sama Ayah. Ayah baik-baik yaa di surga :)"Kartika Artha Wirya
Aku dan Kartika berziarah bersama ke makam suamiku Brahma Artha Wirya. Kartika (anakku) menulis selembar surat kecil untuk ayahnya. Air mataku menetes saat membaca surat Kartika saat di makam Brahma. Kartika tumbuh berkembang tanpa seorang Ayah yang tampan dan gagah seperti Brahma. Tetapi, aku selalu meyakinkan diriku dan anakku bahwa Brahma selalu ada di dalam hati kami. Ia tetap hidup di hati kami. Brahma akan selalu hidup di hatiku.
Aku tetap mencintaimu, suamiku.
SELESAI
created : rr.putri sari sekar kenanga
Hanya Lima Waktu...
Lima...
Tuhan hanya memberikan angka "Lima" dalam waktu 24 jam.
Dia hanya meminta umat-Nya memenuhi pemberian-Nya yang hanya sedikit.
Waktu yang singkat dalam panjangnya hari.
Bahkan ketidak sempurnaan pun tetap diterima oleh-Nya.
Apakah sulit bersujud pada-Nya.
Mengapa terlihat sukar melepas kesombongan duniawi.
Seandainya jika terlewat shalat wajib...
Rasanya seperti dahaga di tengah gurun pasir.
Rasanya seperti kedinginan di Kutub Utara.
Rasanya seperti kelaparan hingga busung lapar.
Dan rasanya seperti tenggelam di tengah samudra.
Masihkah kami menunda waktu yang singkat itu.
Akankah kami meninggalkan satu waktu saja.
Mampukah kami hidup tanpa lima waktu itu.
Bisakah kami melupakan atau pura-pura lupa melewatkan waktu itu.
Tuhan...
Biarkan kami hidup dalam kesibukan.
Namun, jangan biarkan kami tenggelam dalam kesibukan duniawi saja.
Berikan kami ingatan yang maha dahsyat untuk terus mengingat-Mu.
Untuk selalu mengingat dan bertakwa pada-Mu hingga ajal memanggil.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Tuhan hanya memberikan angka "Lima" dalam waktu 24 jam.
Dia hanya meminta umat-Nya memenuhi pemberian-Nya yang hanya sedikit.
Waktu yang singkat dalam panjangnya hari.
Bahkan ketidak sempurnaan pun tetap diterima oleh-Nya.
Apakah sulit bersujud pada-Nya.
Mengapa terlihat sukar melepas kesombongan duniawi.
Seandainya jika terlewat shalat wajib...
Rasanya seperti dahaga di tengah gurun pasir.
Rasanya seperti kedinginan di Kutub Utara.
Rasanya seperti kelaparan hingga busung lapar.
Dan rasanya seperti tenggelam di tengah samudra.
Masihkah kami menunda waktu yang singkat itu.
Akankah kami meninggalkan satu waktu saja.
Mampukah kami hidup tanpa lima waktu itu.
Bisakah kami melupakan atau pura-pura lupa melewatkan waktu itu.
Tuhan...
Biarkan kami hidup dalam kesibukan.
Namun, jangan biarkan kami tenggelam dalam kesibukan duniawi saja.
Berikan kami ingatan yang maha dahsyat untuk terus mengingat-Mu.
Untuk selalu mengingat dan bertakwa pada-Mu hingga ajal memanggil.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Jumat, 23 September 2011
M I M P I
Bayangan samar mulai mengisi alunan mimpi di malam lalu.
Peri kecil menari - nari sambil tersenyum riang ke arahku.
Kerlipan sinar gemintang memancarkan maksimal cahayanya seakan nyaris terjatuh.
Senyum bulan sabit pun mulai melengkung mengikuti irama laguku.
Kesempurnaan-Nya sungguh tiada dua.
Nikmat yang selalu Engkau berikan.
Pasti membuatku selalu berdecak kagum dan menyebut Nama-Mu.
Selalu membuatku bersyukur dan bersujud Pada-Mu.
Terkadang mimpi berubah menjadi nyata.
Namun nyata terlihat layaknya mimpi.
Ini aku... bukan dia dan bukan mereka.
Dia dan mereka, bukan pula diriku.
Aku yang selalu bermimpi.
Aku yang selalu berimajinasi.
Aku yang selalu berkhayal.
Aku yang selalu berangan.
Aku pula yang selalu bertekad untuk mewujudkan mimpiku.
Aku ingin membuktikan kepada dunia betapa tidak meruginya dunia memilikiku.
Aku akan mengatakan dengan tegas kepada mimpi.
MIMPI... tak selamanya kau menjadi mimpi, karena kau berhak berubah menjadi NYATA.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Peri kecil menari - nari sambil tersenyum riang ke arahku.
Kerlipan sinar gemintang memancarkan maksimal cahayanya seakan nyaris terjatuh.
Senyum bulan sabit pun mulai melengkung mengikuti irama laguku.
Kesempurnaan-Nya sungguh tiada dua.
Nikmat yang selalu Engkau berikan.
Pasti membuatku selalu berdecak kagum dan menyebut Nama-Mu.
Selalu membuatku bersyukur dan bersujud Pada-Mu.
Terkadang mimpi berubah menjadi nyata.
Namun nyata terlihat layaknya mimpi.
Ini aku... bukan dia dan bukan mereka.
Dia dan mereka, bukan pula diriku.
Aku yang selalu bermimpi.
Aku yang selalu berimajinasi.
Aku yang selalu berkhayal.
Aku yang selalu berangan.
Aku pula yang selalu bertekad untuk mewujudkan mimpiku.
Aku ingin membuktikan kepada dunia betapa tidak meruginya dunia memilikiku.
Aku akan mengatakan dengan tegas kepada mimpi.
MIMPI... tak selamanya kau menjadi mimpi, karena kau berhak berubah menjadi NYATA.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Senin, 19 September 2011
Step for LOVING you
Pertama, sosoknya terlihat jauh dan samar. Tapi sesekali mataku mencoba menegaskan dan diam - diam memperhatikan gerakan tubuhnya. Pria itu yang setiap hari berada didekatku. Dia yang selalu membuatku nyaman dan tertawa lepas saat didekatnya.
Kedua, perasaanku sempat beralih menjadi rasa kagum. Namun, aku tidak mau mengambil resiko. Resiko untuk patah hati karena tidak bisa memilikinya. Dan akhirnya segera melepaskan anganku.
Ketiga, aku suka caranya saat memberikan perhatian kecil dan salah satu pesan singkat dengan sebuah penawaran manisnya. Aku suka melihat tingkah bodohnya saat melepas canda denganku.
Keempat, jantungku selalu berdebar ketika berdekatan dengannya. Bibir pun mulai kaku dan sulit mengucap kata. Hati ini juga mulai merasa ketakutan, aku takut perasaan ini hanya kunikmati sendiri.
Kelima, Tuhan... Aku memohon pada-Mu, bolehkah aku berharap agar dia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kurasa? Bolehkah aku memilikinya dan menyayanginya?
created : rr.putri sari sekar kenanga
Kedua, perasaanku sempat beralih menjadi rasa kagum. Namun, aku tidak mau mengambil resiko. Resiko untuk patah hati karena tidak bisa memilikinya. Dan akhirnya segera melepaskan anganku.
Ketiga, aku suka caranya saat memberikan perhatian kecil dan salah satu pesan singkat dengan sebuah penawaran manisnya. Aku suka melihat tingkah bodohnya saat melepas canda denganku.
Keempat, jantungku selalu berdebar ketika berdekatan dengannya. Bibir pun mulai kaku dan sulit mengucap kata. Hati ini juga mulai merasa ketakutan, aku takut perasaan ini hanya kunikmati sendiri.
Kelima, Tuhan... Aku memohon pada-Mu, bolehkah aku berharap agar dia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kurasa? Bolehkah aku memilikinya dan menyayanginya?
Tuhan, aku hanya ingin membuatnya selalu bahagia (bersamaku).
created : rr.putri sari sekar kenanga
Minggu, 18 September 2011
dear my ..... f r i e n d
Sebelumnya perasaan ini sudah hinggap di benakku.
Tetapi kesadaran akan diri berusaha untuk menepis rasa sayang ini.
Aku merasa kurang sempurna dan tak mampu menyempurnakannya dengan keterbatasanku.
Dimataku, dia seperti bintang di langit yang hanya mampu kunikmati pancaran sinarnya.
Rasa ini sungguh membingungkanku.
Sayang ...Rasa sayang yang sulit kubedakan.
Antara sahabat atau cinta.
Apa mungkin telah berubah, sahabat menjadi cinta...
Ini adalah hal yang membuatku merasa takut.
Aku takut kehilangan.
Kehilangan sosok sahabatku.
Kehilangan cinta yang datang alami.
Tuhan...jika memang Kau mengijinkan.
Aku ingin terus bersamanya.
Aku ingin selalu melihat senyumnya.
Dan aku akan tetap menyanyanginya.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Tetapi kesadaran akan diri berusaha untuk menepis rasa sayang ini.
Aku merasa kurang sempurna dan tak mampu menyempurnakannya dengan keterbatasanku.
Dimataku, dia seperti bintang di langit yang hanya mampu kunikmati pancaran sinarnya.
Rasa ini sungguh membingungkanku.
Sayang ...Rasa sayang yang sulit kubedakan.
Antara sahabat atau cinta.
Apa mungkin telah berubah, sahabat menjadi cinta...
Ini adalah hal yang membuatku merasa takut.
Aku takut kehilangan.
Kehilangan sosok sahabatku.
Kehilangan cinta yang datang alami.
Tuhan...jika memang Kau mengijinkan.
Aku ingin terus bersamanya.
Aku ingin selalu melihat senyumnya.
Dan aku akan tetap menyanyanginya.
created : rr.putri sari sekar kenanga
Minggu, 12 Juni 2011
m a a f
Maaf ...
Maaf jika rasa ini tumbuh tanpa direncanakan.
Maaf karena hati ini telah singgah dihidupmu.
Maaf bila saja aku telah menyita waktumu, hanya untuk memahami perasaan yang sejenak terpendam dihati ini.
Dan maafkan diri ini karena terlalu lancang untuk mencintaimu.
Jika memang aku bukanlah pemenang dalam hatimu.
Jika memang dirimu tidak mengizinkanku untuk masuk ke dalam kehidupanmu.
Sungguh, aku akan berusaha ikhlas melepaskan ragamu.
Aku akan berusaha untuk tidak menatap lagi matamu.
Aku akan mencoba untuk melupakan kisah manis tentang kita.
Dan aku akan berlari jauh dari hadapanmu, jika itu yang kau mau.
Tapi sekali lagi Maaf ...
Karena sulit bagi hati kecil ini untuk berhenti menyayangimu ...
June, 13th 2011
01.30
Maaf jika rasa ini tumbuh tanpa direncanakan.
Maaf karena hati ini telah singgah dihidupmu.
Maaf bila saja aku telah menyita waktumu, hanya untuk memahami perasaan yang sejenak terpendam dihati ini.
Dan maafkan diri ini karena terlalu lancang untuk mencintaimu.
Jika memang aku bukanlah pemenang dalam hatimu.
Jika memang dirimu tidak mengizinkanku untuk masuk ke dalam kehidupanmu.
Sungguh, aku akan berusaha ikhlas melepaskan ragamu.
Aku akan berusaha untuk tidak menatap lagi matamu.
Aku akan mencoba untuk melupakan kisah manis tentang kita.
Dan aku akan berlari jauh dari hadapanmu, jika itu yang kau mau.
Tapi sekali lagi Maaf ...
Karena sulit bagi hati kecil ini untuk berhenti menyayangimu ...
June, 13th 2011
01.30
Minggu, 24 April 2011
Cinta sang Penyair
Dia bukan sekedar indah ...
Dia anugerah yang telah Kau ciptakan
Dia terlahir hanya untuk seorang yang beruntung
Dia adalah karunia luar biasa jika memang tercipta untukku
Pancaran matanya seperti kilauan mutiara laut yang sesungguhnya sulit kuselami
Setiap kata yang terucap dari mulutnya terdengar merdu seperti alunan musik klasik
Ini melebihi dari rasa kagumku
Bukan juga rasa yang sebentar ada dan pergi begitu saja
Aku merasakan perasaan yang suci dan tulus
Perasaan yang sudah Engkau takdirkan lewat mimpiku malam lalu
Walau pertemuan terjadi hanya semalam
Cinta ini meyakinkanku
Memberikanku satu alasan yang pasti
Untuk selalu tetap memimpikan dan tetap mencintaimu ...
rr.putrisarisekarkenanga
Dia anugerah yang telah Kau ciptakan
Dia terlahir hanya untuk seorang yang beruntung
Dia adalah karunia luar biasa jika memang tercipta untukku
Pancaran matanya seperti kilauan mutiara laut yang sesungguhnya sulit kuselami
Setiap kata yang terucap dari mulutnya terdengar merdu seperti alunan musik klasik
Ini melebihi dari rasa kagumku
Bukan juga rasa yang sebentar ada dan pergi begitu saja
Aku merasakan perasaan yang suci dan tulus
Perasaan yang sudah Engkau takdirkan lewat mimpiku malam lalu
Walau pertemuan terjadi hanya semalam
Cinta ini meyakinkanku
Memberikanku satu alasan yang pasti
Untuk selalu tetap memimpikan dan tetap mencintaimu ...
rr.putrisarisekarkenanga
Selasa, 19 April 2011
tetap menunggu ....
kedua kaki ini terus melangkah, berjalan ke segala arah
sepasang bola mata ini masih tetap terjaga, memandang ke setiap sudut yang ada
tangan ini pun hanya bisa mengepal, hanya untuk mengekspresikan rasa kesal
hampir saja dinding yang belum terlalu kokoh itu berubah menjadi puing
nyaris butiran pasir itu masuk ke dalam mata
menurutku ini bukan anugerah
bukan pula musibah ...
mungkin ini hanyalah sebuah dilema yang kubuat sendiri ...
mungkin aku hanya seorang sutradara dalam sebuah sandiwara ...
aku sudah lelah berjalan namun tak juga kutemui ujungnya
dan semakin kuberlari yang kutemui hanya jalan buntu ....
kini aku hanya bisa belajar menjadi seorang yang tetap kuat ...
wanita yang sesungguhnya harus selalu kuat untuk menunggu hadiah terindah yang Tuhan berikan ....
rr.putrisarisekarkenanga
*RR*
sepasang bola mata ini masih tetap terjaga, memandang ke setiap sudut yang ada
tangan ini pun hanya bisa mengepal, hanya untuk mengekspresikan rasa kesal
hampir saja dinding yang belum terlalu kokoh itu berubah menjadi puing
nyaris butiran pasir itu masuk ke dalam mata
menurutku ini bukan anugerah
bukan pula musibah ...
mungkin ini hanyalah sebuah dilema yang kubuat sendiri ...
mungkin aku hanya seorang sutradara dalam sebuah sandiwara ...
aku sudah lelah berjalan namun tak juga kutemui ujungnya
dan semakin kuberlari yang kutemui hanya jalan buntu ....
kini aku hanya bisa belajar menjadi seorang yang tetap kuat ...
wanita yang sesungguhnya harus selalu kuat untuk menunggu hadiah terindah yang Tuhan berikan ....
rr.putrisarisekarkenanga
*RR*
Jumat, 18 Maret 2011
KAMU a d a l a h ...
Kamu ...
Sosokmu terus terbayang hanya 5 sentimeter didepanku
Sifatmu yang berwibawa membuatku kagum seketika
Cara berfikirmu yang cerdas memberi motivasi untuk hidupku
Dan sikapmu yang dewasa seakan mampu membimbingku menjadi lebih tegar
Sempat aku bermimpi ..
Kelak kamu lah yang berdiri disampingku saat di pelaminan nanti
Kamu lah yang menjadi imam dalam setiap shalat dan hidupku
Kamu lah yang akan menjadi seorang bapak yang hebat bagi anak-anakku kelak
Dan kamu lah yang akan terus menemaniku di sisa-sisa hidupku ..
Aku selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan ,semoga kamu adalah belahan jiwaku ...amin
RR...
Sosokmu terus terbayang hanya 5 sentimeter didepanku
Sifatmu yang berwibawa membuatku kagum seketika
Cara berfikirmu yang cerdas memberi motivasi untuk hidupku
Dan sikapmu yang dewasa seakan mampu membimbingku menjadi lebih tegar
Sempat aku bermimpi ..
Kelak kamu lah yang berdiri disampingku saat di pelaminan nanti
Kamu lah yang menjadi imam dalam setiap shalat dan hidupku
Kamu lah yang akan menjadi seorang bapak yang hebat bagi anak-anakku kelak
Dan kamu lah yang akan terus menemaniku di sisa-sisa hidupku ..
Aku selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan ,semoga kamu adalah belahan jiwaku ...amin
RR...
Senin, 03 Januari 2011
J E R I T
Ketidakadilan itu datang lagi di hadapanku
Entah bagaimana bisa aku berucap syukur, dengan segala kegagalan dan kehinaan yang telah kau hadiahkan untukku
Kau perlakukan aku seperti cacing tanah
Yang sesekali dapat membantumu untuk menyuburkan tanah dan tanaman di kebunmu
Kemudian kau bisa sesuka hati membunuhku dengan pembasmi hama bahkan tak segan kau menginjakku tanpa dosa
Ingin sekali mulut ini meluapkan segala cacian dan segala kesalku
Tangan ini pun berhasrat untuk melayang lalu mendarat di pipimu
Hai .... Lihat aku !! Lekas perhatikan diriku sekali lagi !! Sekarang ,coba perhatikan aku berulang kali !!
AKU MANUSIA !! Aku makhluk yang sama sepertimu ...
Aku ingin hidup seperti selayaknya manusia, yang ingin diperlakukan bukan seperti hewan yang hina, bahkan aku malah seperti lebih menjijikan dari hewan dipandanganmu ..
Usir saja aku ,mungkin itu lebih baik daripada kau terus simpan aku disini hingga nanti menjadi sampah
Ingin segera penderitaan ini berakhir ,berakhir ketika raga ini kembali ke tanah air ...
Sesampainya jiwa dan raga ini di negeri tercinta ,dapat lebih berguna dan berkarya seperti sedia kala ...
Tulisan ini saya dedikasikan kepada para Pahlawan Devisa Negeri Indonesia yang tercinta, mereka yang rela berkeringat bahkan sampai darah yang seharusnya mengalir di dalam tubuhnya menjadi keluar dari lapisan - lapisan kulit mereka karena siksa yang mereka terima di negeri orang...
Seharusnya kita belajar dari mereka yang mungkin memiliki tujuan mulia. Dari sekian banyak TKI atau TKW yang berangkat ke negeri orang pasti memiliki target hidup yang ingin membahagiakan keluarganya dan mungkin karena sudah ada pilihan hidup lain yang lebih baik dari yang mereka pilih.
Jangan hanya iba saja melihat perjuangan pahlawan devisa kita, setidaknya kita selalu mengangkat tangan kita dan memanjatkan doa kepada yang Kuasa agar mereka selalu dilindungi dan mendapat kehidupan yang layak, selayaknya manusia ...Amin
created : Rr.Putri Sari Sekar Kenanga
Entah bagaimana bisa aku berucap syukur, dengan segala kegagalan dan kehinaan yang telah kau hadiahkan untukku
Kau perlakukan aku seperti cacing tanah
Yang sesekali dapat membantumu untuk menyuburkan tanah dan tanaman di kebunmu
Kemudian kau bisa sesuka hati membunuhku dengan pembasmi hama bahkan tak segan kau menginjakku tanpa dosa
Ingin sekali mulut ini meluapkan segala cacian dan segala kesalku
Tangan ini pun berhasrat untuk melayang lalu mendarat di pipimu
Hai .... Lihat aku !! Lekas perhatikan diriku sekali lagi !! Sekarang ,coba perhatikan aku berulang kali !!
AKU MANUSIA !! Aku makhluk yang sama sepertimu ...
Aku ingin hidup seperti selayaknya manusia, yang ingin diperlakukan bukan seperti hewan yang hina, bahkan aku malah seperti lebih menjijikan dari hewan dipandanganmu ..
Usir saja aku ,mungkin itu lebih baik daripada kau terus simpan aku disini hingga nanti menjadi sampah
Ingin segera penderitaan ini berakhir ,berakhir ketika raga ini kembali ke tanah air ...
Sesampainya jiwa dan raga ini di negeri tercinta ,dapat lebih berguna dan berkarya seperti sedia kala ...
Tulisan ini saya dedikasikan kepada para Pahlawan Devisa Negeri Indonesia yang tercinta, mereka yang rela berkeringat bahkan sampai darah yang seharusnya mengalir di dalam tubuhnya menjadi keluar dari lapisan - lapisan kulit mereka karena siksa yang mereka terima di negeri orang...
Seharusnya kita belajar dari mereka yang mungkin memiliki tujuan mulia. Dari sekian banyak TKI atau TKW yang berangkat ke negeri orang pasti memiliki target hidup yang ingin membahagiakan keluarganya dan mungkin karena sudah ada pilihan hidup lain yang lebih baik dari yang mereka pilih.
Jangan hanya iba saja melihat perjuangan pahlawan devisa kita, setidaknya kita selalu mengangkat tangan kita dan memanjatkan doa kepada yang Kuasa agar mereka selalu dilindungi dan mendapat kehidupan yang layak, selayaknya manusia ...Amin
created : Rr.Putri Sari Sekar Kenanga
Langganan:
Postingan (Atom)